Layanan Pengaduan
21 Nov 2025 Berita Kampus

KONFERENSI PUNCAK PENDIDIKAN TINGGI INDONESIA (KPPTI) 2025 HARI II & III

KONFERENSI PUNCAK PENDIDIKAN TINGGI INDONESIA (KPPTI) 2025 HARI II & III

TEMA HARI II & III: INOVASI, RELEVANSI, KONEKTIVITAS, DAMPAK & INTERNASIONALISASI DAN KOMITMEN BERSAMA


STIKes Mitra Husada Medan berkelanjutan mengikuti kegiatan Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 yang diselenggarakan di Graha unesa dan Fakultas psikologi, Kampus II unesa Il. citra Raya Lakarsantri, Lidah wetan, Kec. Lakarsantri, surabaya, Jawa Timur 60213, pada hari Kamis dan Jumat, 20 sd 21 November 2025


Kegiatan dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Prof. Dr. Fauzan, M.Pd, Para Narasumber Expert Prof. Dr. Paulina Pannen, MLS. (UT), Prof.Dr. Rudi Susilana, M.Si (UPI). Prof. Bayu Dwi Anggono, S.H., M.H - Kepala Badan Keahlian DPR, Prof. Drs. T. Basaruddin, M.Sc., Ph.D - Dewan Pendidikan Tinggi. Direktur PINDAD, Direktur Paragon, Direktur PT PAL. Narasumber dari Diaspora dan Mitra Industry Kompas Jawa, Tempo, Expertise, Ketua IDN Global, Prof. Beni (UK - daring), Prof Henry, Prof. Yuliana (Australia), Prof. Taufik. Kegiatan ini juga dihadiri langsung oleh Yayasan Mitra Husada Medan dan Pimpinan Perguruan Tinggi dari seluruh Indonesia.


Dalam paparannya, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd, mengangkat tema “Students Today, Leaders Tomorrow: Membangun Kompetensi dan Karakter untuk Kepemimpinan Efektif”. Beliau menekankan bahwa dalam ekosistem kepemimpinan, 1% berperan sebagai penanggung jawab, 9% sebagai penerjemah atau pelaksana, dan 90% merupakan komunitas pengguna atau penerima manfaat. Beliau menegaskan bahwa kepemimpinan masa depan membutuhkan transformasi mindset. Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, pendekatan kepemimpinan tradisional tidak lagi memadai. Pemimpin masa depan harus memiliki pola pikir yang adaptif, inovatif, serta berorientasi pada pembelajaran berkelanjutan. Lebih lanjut, Prof. Fauzan memaparkan lima kompetensi inti pemimpin masa depan, yaitu: Kecerdasan emosional, Agilitas digital, Pemikiran strategis, Kepemimpinan inklusif dan Komunikasi efektif. Kecerdasan emosional ditekankan sebagai fondasi kepemimpinan, yang mencakup kemampuan membangun kepercayaan, mengelola konflik, dan memotivasi tim secara efektif melalui empat dimensi utama: self-awareness, self-regulation, social awareness, dan relationship management. Pada akhirnya, pemimpin masa depan dituntut mampu melakukan analisis lingkungan, perencanaan skenario, berpikir sistem, serta melakukan eksekusi strategis secara berkelanjutan. 


Dalam pemaparannya, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, menegaskan pentingnya Kolaborasi Riset Nasional untuk Mengakselerasi Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui prinsip intergenerational equity, pendekatan terintegrasi, dan penguatan kolaborasi lintas sektor. Beliau menekankan bahwa percepatan transformasi menuju Innovation-Driven Economy membutuhkan penguatan ekosistem ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan inovasi (IPTEK dan RISNOV).


Prof. Arif Satria juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi pemangku kepentingan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Kontribusi IPTEK dan RISNOV terhadap perekonomian tercermin melalui peningkatan output riset, penguatan kapasitas sumber daya manusia IPTEK, serta optimalisasi anggaran dan belanja riset nasional. Beliau menjelaskan bahwa terdapat enam agenda riset nasional yang mendukung pencapaian SDGs, yaitu: Kedaulatan pangan, Kedaulatan energi, Kesehatan dan kesejahteraan, Penguatan ekonomi berbasis pengetahuan, Pengembangan lingkungan hidup berkelanjutan dan ketahanan air dan  Penguatan ketahanan sosial dan Masyarakat. Dalam ekosistem riset nasional, perguruan tinggi memegang peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, serta pembentukan karakter generasi masa depan. BRIN memberikan dukungan melalui Program Peningkatan Kualifikasi dan Mobilitas Talenta Riset dan Inovasi, yang bertujuan memperkuat kapasitas peneliti sekaligus memperluas jejaring kolaborasi riset.


Inovasi pembelajaran, digitalisasi, dan relevansi lulusan di era Dunia Kerja 5.0 menjadi tuntutan utama bagi Perguruan Tinggi. Dalam konteks ini, AI hadir sebagai mitra kerja, bukan sekadar alat kerja, sehingga lulusan harus memiliki karakter yang resilient, agile, dan siap menjadi future human resources. Pendidikan Tinggi dituntut untuk selaras dengan kebutuhan dunia kerja yang semakin inovatif, digital, dan berpusat pada manusia.
Konsep 5-Year Strategic University Partnership: Co-Creating Indonesia’s Digital & AI Future menegaskan pentingnya kolaborasi jangka panjang. Terdapat dua kebutuhan utama mitra industri sekaligus ekspektasi terhadap Perguruan Tinggi, yaitu ketersediaan talenta dan inovasi yang dihasilkan dari riset, yang harus dapat dihilirkan. Selain itu, kerangka kebijakan pemerintah perlu dievaluasi secara berkala sebagai bagian dari keberlanjutan kolaborasi. Langkah ini akan menciptakan ekosistem yang lebih kuat melalui peningkatan komunikasi, koordinasi, serta keselarasan ekspektasi kedua pihak.


Dalam forum ini juga Narasumber dari Dunia Industri  menyampaikan Dalam proses rekrutmen, industri cenderung memilih karyawan melalui program magang, karena pendekatan ini memungkinkan penilaian komprehensif terhadap kemampuan teknis maupun soft skills. Perguruan Tinggi perlu memastikan bahwa kurikulum tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, mengingat AI kini mampu mendukung berbagai disiplin ilmu. Tantangan terbesar yang dihadapi industri adalah kesenjangan soft skills, sehingga prinsip “Hard is Soft, Soft is Hard” menjadi sangat relevan. Perguruan Tinggi perlu memperkuat kompetensi komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama tim sebagai bagian dari pematangan karakter lulusan.


Melalui program magang, industri dapat mengenalkan mahasiswa secara langsung pada lingkungan kerja nyata, termasuk pemahaman tentang GEAS SPACE FRAME, serta mendukung kemajuan Perguruan Tinggi melalui penerapan teknologi berbasis robotik. Salah satu solusi strategis untuk menjembatani kesenjangan tersebut adalah memaksimalkan kekuatan unik yang dimiliki masing-masing Perguruan Tinggi dalam kolaborasi.


Ekosistem kolaborasi dibangun di atas lima pilar kunci, dua di antaranya berasal dari lingkungan kampus: AI Talent dan Research Excellence. Perguruan Tinggi merupakan hulu pendidikan emas masa depan yang memegang peran fundamental dalam menyiapkan generasi kompeten untuk menghadapi transformasi digital nasional.


Pada hari ketiga disampikan bahwa Peluncuran Buku WCU, Perjalanan Menuju Universitas Berkelas Dunia. Kegiatan Talshow antar perguruan Tinggi,CEO GP Group, Komunikasi Sains Inovasi Perguruan Tinggi untuk kampus berdampak bersama Detikcom, Jawa Pos dan Kompas. Hubungan Diaspora Indonesia Bersinergi melakukan kegiatan untuk ikut membangun citra positif Indonesia, melakukan kegiatan meningkatkan promosi budaya dan pariwisata serta ekonomi dan investasi. 


Pada akhir sesi kegiatan, dilaksanakan agenda Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategis bersama para mitra. STIKes Mitra Husada Medan resmi menjalin kerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya dan Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda (ITKes WHS). Penandatanganan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi serta mendorong STIKes Mitra Husada Medan menuju Perguruan Tinggi Berkelas Dunia.


STIKes Mitra Husada Medan optimalisasi  inovasi dalam pembelajaran, riset, dan kemitraan strategis untuk menciptakan lulusan kesehatan yang unggul, relevan dengan kebutuhan industri, serta berintegritas tinggi dalam menghadapi tantangan era digital dan AI dengan Budaya PACER.